Waktu membaca 8 Menit

Cara Tetap Tenang Saat Pasar Saham Sedang Turun Tajam

Penurunan pasar saham merupakan bagian alami dari siklus investasi yang dapat terjadi di berbagai pasar. Memahami penyebab volatilitas serta mengelola emosi dapat membantu investor mengambil keputusan yang lebih rasional sesuai tujuan investasi jangka panjang.

Penurunan pasar saham merupakan bagian alami dari siklus investasi yang dapat terjadi di berbagai pasar. Memahami penyebab volatilitas serta mengelola emosi dapat membantu investor mengambil keputusan yang lebih rasional sesuai tujuan investasi jangka panjang.

Key Takeaways

  • Volatilitas merupakan bagian normal dari pasar saham dan tidak selalu menandakan perubahan fundamental.
  • Keputusan investasi yang didasarkan pada emosi sering kali menghasilkan hasil yang kurang optimal dibandingkan pendekatan yang disiplin.
  • Diversifikasi, tujuan investasi yang jelas, dan perspektif jangka panjang dapat membantu menghadapi fluktuasi pasar
  • Berita dan sentimen pasar dapat memengaruhi harga saham dalam jangka pendek, tetapi tidak selalu mencerminkan nilai fundamental perusahaan
  • Kinerja historis bukan merupakan jaminan hasil di masa depan sehingga setiap keputusan investasi perlu mempertimbangkan profil risiko masing-masing.

Melihat portofolio berwarna merah bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Baik Anda berinvestasi di saham maupun ETF, penurunan harga dapat memunculkan rasa khawatir dan mendorong keputusan yang terburu-buru.

Namun, volatilitas merupakan karakteristik alami pasar modal. Bahkan perusahaan-perusahaan terbesar di dunia pernah mengalami penurunan harga saham yang signifikan sebelum akhirnya kembali mencatatkan pertumbuhan. Oleh karena itu, memahami bagaimana pasar bekerja sering kali lebih penting daripada mencoba menebak kapan harga akan naik atau turun.

Artikel ini membahas penyebab pasar saham berfluktuasi, alasan mengapa investor sering panik ketika harga turun, serta beberapa strategi yang dapat membantu menjaga disiplin investasi selama periode volatilitas.

Memahami Volatilitas Pasar Saham

Volatilitas adalah tingkat perubahan harga suatu aset dalam periode tertentu. Semakin besar pergerakan harga, semakin tinggi tingkat volatilitasnya.

Banyak investor menganggap volatilitas sebagai sesuatu yang negatif. Padahal, dalam praktiknya volatilitas merupakan mekanisme alami pasar dalam menyesuaikan harga terhadap informasi baru.

Harga saham berubah setiap hari karena jutaan pelaku pasar terus mengevaluasi berbagai faktor, seperti:

  • Laporan keuangan perusahaan.
  • Kondisi ekonomi global.
  • Perubahan suku bunga.
  • Inflasi.
  • Kebijakan bank sentral.
  • Perkembangan geopolitik.
  • Ekspektasi pertumbuhan ekonomi.

Karena informasi baru terus muncul, harga saham juga akan terus berubah. Inilah yang membuat pasar saham bersifat dinamis.

Volatilitas juga tidak hanya terjadi pada satu negara. Saham AS, ETF global, maupun indeks saham utama seperti S&P 500, Nasdaq Composite, dan Dow Jones juga mengalami periode kenaikan maupun penurunan sepanjang sejarah.

Mengapa Harga Saham Bisa Turun?

Penurunan harga saham tidak selalu berarti perusahaan tersebut sedang mengalami masalah serius. Dalam banyak kasus, harga bergerak karena perubahan ekspektasi investor terhadap kondisi ekonomi maupun prospek bisnis di masa depan.

Beberapa faktor yang sering memicu penurunan pasar antara lain:

1. Kondisi Ekonomi Melambat

Ketika pertumbuhan ekonomi melambat, investor mulai memperkirakan bahwa laba perusahaan dapat mengalami tekanan. Ekspektasi tersebut sering kali mendorong penurunan harga saham sebelum dampaknya benar-benar terlihat pada laporan keuangan.

2. Perubahan Suku Bunga

Keputusan bank sentral, termasuk Federal Reserve di Amerika Serikat, sering memengaruhi pasar saham global. Suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya pendanaan perusahaan sekaligus membuat sebagian investor mengalihkan dana ke instrumen berpendapatan tetap.

3. Ketidakpastian Geopolitik

Konflik internasional, perubahan kebijakan perdagangan, maupun ketidakpastian politik dapat meningkatkan kehati-hatian investor sehingga memicu volatilitas pasar.

4. Laporan Keuangan

Perusahaan yang gagal memenuhi ekspektasi pasar dapat mengalami penurunan harga saham meskipun tetap membukukan laba.

Sebaliknya, perusahaan dengan fundamental yang baik pun terkadang ikut mengalami penurunan ketika sentimen pasar secara keseluruhan sedang negatif.

Mengapa Investor Mudah Panik?

Salah satu tantangan terbesar dalam investasi bukanlah memahami laporan keuangan, melainkan mengendalikan emosi.

Penelitian dalam bidang behavioral finance menunjukkan bahwa manusia cenderung merasakan kerugian lebih kuat dibandingkan kesenangan saat memperoleh keuntungan dalam jumlah yang sama. Fenomena ini dikenal sebagai loss aversion.

Akibatnya, ketika portofolio turun 10%, banyak investor merasa terdorong untuk segera menjual asetnya agar kerugian tidak bertambah.

Masalahnya, keputusan yang diambil ketika emosi sedang tinggi sering kali tidak didasarkan pada analisis yang objektif. Investor juga mudah dipengaruhi oleh:

  • Berita yang bernada negatif.
  • Komentar di media sosial.
  • Opini influencer keuangan.
  • Pergerakan harga dalam jangka sangat pendek.

Padahal, informasi tersebut belum tentu mencerminkan kondisi fundamental perusahaan. Sering kali, rasa takut berasal dari ketidakpastian, bukan dari perubahan nyata pada bisnis yang dimiliki investor.

Jangan Terlalu Fokus pada Pergerakan Harian

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan investor adalah terlalu sering memantau portofolionya. Melihat harga saham berubah setiap beberapa menit dapat meningkatkan stres dan mendorong keputusan impulsif. 

Bagi investor dengan tujuan jangka panjang, perubahan harga harian belum tentu memiliki dampak signifikan terhadap tujuan investasi mereka. Sebaliknya, akan lebih bermanfaat apabila investor secara berkala mengevaluasi:

  • Apakah fundamental perusahaan masih sesuai dengan alasan awal berinvestasi;
  • Apakah tujuan investasi masih sama;
  • Apakah alokasi portofolio masih sesuai dengan profil risiko.

Pendekatan ini membantu memisahkan fluktuasi jangka pendek dari perubahan fundamental yang benar-benar penting.

Strategi Menghadapi Pasar Saham yang Turun

Meskipun volatilitas tidak dapat dihindari, investor dapat mengelola respons mereka terhadap kondisi pasar. Strategi yang disiplin sering kali lebih efektif dibandingkan mencoba menebak kapan pasar mencapai titik terendah atau tertinggi.

Berikut beberapa pendekatan yang dapat dipertimbangkan.

1. Kembali pada Tujuan Investasi

Ketika pasar mengalami koreksi, pertanyaan pertama yang perlu diajukan bukanlah "Haruskah saya menjual?", melainkan: "Apakah tujuan investasi saya berubah?"

Jika Anda berinvestasi untuk tujuan jangka panjang, seperti mempersiapkan dana pensiun, pendidikan anak, atau membangun kekayaan dalam 10–20 tahun ke depan, fluktuasi harga dalam beberapa hari atau bulan mungkin tidak mengubah tujuan tersebut.

Sebaliknya, jika perubahan kondisi ekonomi benar-benar memengaruhi kebutuhan finansial atau profil risiko Anda, mengevaluasi kembali portofolio dapat menjadi langkah yang lebih tepat daripada bereaksi terhadap kepanikan pasar.

2. Fokus pada Fundamental, Bukan Sentimen

Harga saham dapat bergerak lebih cepat daripada perubahan fundamental perusahaan.

Pada periode tertentu, sentimen negatif dapat membuat harga turun meskipun perusahaan masih mencatat pertumbuhan pendapatan, memiliki neraca yang sehat, atau tetap menghasilkan arus kas yang kuat.

Alih-alih terjebak pada fluktuasi harga jangka pendek, investor jangka panjang lebih fokus pada kekuatan fundamental perusahaan. Hal ini mencakup pertumbuhan pendapatan, tingkat keuntungan, daya saing di pasar, rekam jejak manajemen, dan potensi industri ke depan.

Hal ini juga berlaku ketika berinvestasi pada ETF. Investor dapat mengevaluasi tujuan ETF tersebut, indeks acuannya, biaya pengelolaan (expense ratio), serta bagaimana instrumen tersebut sesuai dengan strategi investasinya.

3. Diversifikasi Dapat Membantu Mengurangi Risiko

Diversifikasi merupakan salah satu prinsip dasar dalam investasi. Alih-alih bergantung pada satu perusahaan atau satu sektor, investor dapat mempertimbangkan penyebaran investasi ke beberapa aset yang berbeda sesuai tujuan dan toleransi risikonya.

Sebagai contoh, portofolio dapat mencakup kombinasi:

  • Saham dari berbagai sektor.
  • ETF berbasis indeks.
  • ETF sektor tertentu.
  • Aset dengan karakteristik risiko yang berbeda

Diversifikasi tidak menghilangkan risiko investasi maupun menjamin keuntungan, tetapi dapat membantu mengurangi dampak apabila salah satu aset mengalami penurunan yang signifikan.

4. Hindari Mengambil Keputusan Saat Emosi Memuncak

Penurunan pasar sering kali memicu rasa takut. Namun, keputusan yang diambil ketika emosi sedang tinggi belum tentu merupakan keputusan terbaik. Jika Anda merasa terdorong untuk segera menjual seluruh portofolio, ada baiknya memberi jeda sebelum mengambil tindakan. Misalnya:

  • Membaca kembali alasan awal membeli aset tersebut;
  • Meninjau tujuan investasi;
  • Mengevaluasi apakah ada perubahan fundamental yang benar-benar signifikan;
  • Mempertimbangkan untuk berdiskusi dengan penasihat keuangan apabila diperlukan.

Memberikan waktu untuk berpikir dapat membantu mengurangi keputusan yang bersifat impulsif.

5. Batasi Paparan Berita yang Berlebihan

Pada saat pasar bergejolak, berita negatif biasanya mendominasi media. Judul yang sensasional dapat meningkatkan kecemasan meskipun informasi tersebut belum tentu mengubah prospek investasi jangka panjang.

Tidak berarti investor harus mengabaikan perkembangan pasar. Namun, memperoleh informasi dari sumber yang kredibel dan membatasi konsumsi berita secara berlebihan dapat membantu menjaga perspektif yang lebih objektif.

Daripada terus memantau pergerakan harga setiap menit, banyak investor memilih melakukan evaluasi portofolio secara berkala sesuai strategi yang telah ditetapkan.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Pasar Turun

Menghindari kesalahan umum sering kali sama pentingnya dengan memilih investasi yang tepat. Beberapa kesalahan yang sering terjadi ketika pasar mengalami penurunan antara lain:

Menjual karena Panik

Menjual aset hanya karena harga sedang turun dapat membuat kerugian yang sebelumnya masih bersifat sementara menjadi kerugian yang terealisasi.

Sebelum mengambil keputusan, penting untuk memahami penyebab penurunan harga dan apakah alasan awal investasi masih relevan.

Mengejar Berita atau Rumor

Media sosial dan forum investasi dapat menyebarkan informasi dengan sangat cepat. Namun, tidak semua informasi telah diverifikasi atau mencerminkan kondisi sebenarnya.

Mengambil keputusan hanya berdasarkan rumor atau opini yang belum terkonfirmasi dapat meningkatkan risiko kesalahan dalam investasi.

Berusaha Menebak Titik Terendah Pasar

Tidak ada metode yang dapat secara konsisten memprediksi kapan pasar mencapai titik terendah maupun titik tertinggi.

Bahkan investor profesional pun tidak selalu mampu melakukan market timing secara akurat.

Karena itu, banyak investor lebih memilih fokus pada strategi jangka panjang dibandingkan mencoba memperkirakan setiap pergerakan pasar.

Tidak Memiliki Rencana Investasi

Investor yang memiliki tujuan investasi, strategi alokasi aset, dan toleransi risiko yang jelas umumnya lebih siap menghadapi volatilitas dibandingkan mereka yang berinvestasi tanpa rencana.

Memiliki kerangka investasi yang terdokumentasi dapat membantu menjaga disiplin ketika kondisi pasar berubah.

Membangun Pola Pikir Jangka Panjang

Investasi bukan hanya tentang memilih perusahaan yang tepat, tetapi juga tentang kemampuan mempertahankan disiplin ketika pasar bergerak tidak sesuai harapan.

Dalam sejarah pasar modal, berbagai periode penurunan pernah terjadi akibat krisis ekonomi, pandemi, inflasi, maupun perubahan kebijakan moneter. Meskipun demikian, banyak pasar saham utama dunia pada akhirnya juga mengalami fase pemulihan. Namun, kinerja historis bukan merupakan jaminan hasil di masa depan, sehingga setiap keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan kondisi pasar saat ini, tujuan investasi, dan profil risiko masing-masing.

Bagi investor yang memiliki horizon investasi jangka panjang, volatilitas dapat dipandang sebagai bagian dari perjalanan investasi, bukan sebagai alasan untuk mengubah strategi secara terburu-buru.

Hal yang terpenting adalah memastikan bahwa setiap keputusan didasarkan pada analisis yang matang, bukan pada rasa takut maupun euforia sesaat.

Kesimpulan

Pasar saham akan selalu mengalami siklus kenaikan dan penurunan. Tidak ada investor yang dapat menghindari volatilitas sepenuhnya, baik ketika berinvestasi di saham AS, ETF, maupun instrumen pasar modal lainnya.

Alih-alih mencoba memprediksi setiap pergerakan pasar, investor dapat lebih berfokus pada hal-hal yang berada dalam kendalinya, seperti menetapkan tujuan investasi, membangun portofolio yang sesuai dengan profil risiko, melakukan diversifikasi, serta menjaga disiplin selama periode volatilitas.

Pendekatan yang rasional dan konsisten tidak menghilangkan risiko investasi, tetapi dapat membantu investor membuat keputusan yang lebih terukur dan selaras dengan tujuan keuangan jangka panjang

Dapatkan Reward hingga $25

Ada reward khusus pengguna baru saat buka rekening, deposit & transaksi di XTB!

Ambil rewardnya!

FAQ

Ya. Penurunan harga merupakan bagian dari siklus pasar yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi ekonomi, perubahan suku bunga, laporan keuangan perusahaan, maupun sentimen investor.

Tidak ada jawaban yang berlaku untuk semua investor. Keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada tujuan investasi, profil risiko, dan perubahan fundamental aset yang dimiliki, bukan semata-mata karena fluktuasi harga jangka pendek.

Harga saham dipengaruhi oleh ekspektasi investor terhadap prospek masa depan. Perubahan suku bunga, valuasi, atau sentimen pasar dapat menyebabkan harga saham turun meskipun perusahaan masih membukukan kinerja yang baik.

Ya. Nilai ETF mengikuti pergerakan aset atau indeks acuannya. Oleh karena itu, ketika pasar yang menjadi acuan mengalami penurunan, harga ETF juga dapat ikut berfluktuasi.

Investor dapat mempertimbangkan untuk tetap berpegang pada rencana investasi, melakukan diversifikasi, mengevaluasi portofolio secara berkala, serta menghindari keputusan yang didorong oleh emosi. Seluruh keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing.

11 menit

Margin Trading: Menambah Keuntungan atau Menambah Risiko ?

19 menit

Volume dan Moving Average: Fondasi Eksekusi Trading Profesional

11 menit

Apa Itu Options Trading? Panduan Simpel & Lengkap

Materi pemasaran ini bukan merupakan rekomendasi investasi atau saran strategi investasi. Informasi ini tidak menjamin kinerja atau hasil investasi di masa mendatang. Aktivitas trading melibatkan risiko kerugian finansial yang signifikan, termasuk kemungkinan kehilangan sebagian maupun seluruh modal yang diinvestasikan. Segala keputusan trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.